Download Arsitektur Byzantium PDF

TitleArsitektur Byzantium
File Size334.7 KB
Total Pages11
Table of Contents
                            ARSITEKTUR BYZANTINE
                        
Document Text Contents
Page 1

ARSITEKTUR BYZANTINE

Sejarah Singkat

Pada mulanya, Bysantium adalah daerah eropa timur tempat koloni bangsa Yunani sejak
tahun 660 SM, yang kemudian menjadi wilayah kekaisaran Romawi. Konstantin Agung
mengundang banyak seniman ke Bysantium untuk membangun kota antara selat Bhosphorus dan
laut Mamora. Kota ini kemudin dinamakan Konstatinopel, dan pada tahun 330 diresmikan
sebagai ibukota Romawi Timur. Bizantium adalah pewaris langsung kekaisaran terakhir Romawi
dan merupakan bangsa Kristen yang pertama. Orang Bizantium mensistemasikan hukum
Romawi dan senatnya juga mencontoh pola senat Romawi, namun masih didukung oleh kaum
Biara dan mencari nasehat dibidang politik pada kaum Mistikus.
Tiga aspek kehidupan orang Bizantium yang menonjol adalah keagamaan, intrik kerajaan dan
sirkus-sirkus popular yang spektakuler (sulap).
Kehidupan kota dipusatkan disekeliling 3 bangunan penting yaitu kelompok gedung Hypodrom,
Istana suci kekaisaran dan Gereja Hagia Sophia, dimana ke 3 bangunan ini mewakili 3 unsur
dunia Bizantium yaitu rakyat, kekuasaan kaisar dan agama. Ketiga gedung ini terletak serasi
berdekatan serta dihubungkan oleh Mese atau jalan tengah, yaitu suatu jalan yangs selalu dipakai
untuk upacara kenegaraan dan keagamaan (jalan protocol menuju ke bangunan penting).

Seni dan Arsitektur

Salah satu segi terpenting bagi kota baru Konstantinopel adalah kota tersebut bukan
merupakan duplikat dari kota Roma yaitu dengan dibangun gereja Kristen pertama Hagia Sophia
serta menyelesaikan banyak gereja lainnya. Seni dekorasi motif Mosaic yang cemerlang dan
gemerlapan berkembang pesat. Sedangkan Arsitektur bangunan bersegi banyak dengan atap
kubah bermunculan dimanapun, dibukit Yugoslavia, dilembah Rumania digurun Suria Bizantium
yang mengembangkan hirarki bentuk semacam itu. Penggunaan sistem kubah untuk konstruksi
atap bertolak belakang dengan gaya Kristiani kuno berupa penopang-penopang kayu dan juga
gaya lengkung batu Romawi. Cita-cita arsitektur Byzantium adalah mengkonstruksi atap gereja
dengan atap kubah, karena kubah dianggap symbol dari kekuasaan yang Maha Esa. Membangun
kubah diatas denah bujur sangkar menimbulkan kesulitan

Hasil pembangunan kota Konstantinopel, meliputi banyak bangunan antara lain 2 gedung
teatre, 8 pemandian umum, 153 pemandian prbadi, 5 lumbung, 8 akuaduk, 14 gereja, 14 istana
dan 4388 rumah tinggal yang cukup besar, dan masih banyak lagi fasilitas umum, misalnya
rumah sakit, pasar serta perumahan penduduk yang tidak tercatat kota menampung sekitar
600.000 orang penduduk.

http://architecturoby.blogspot.com/2009/03/arsitektur-romawi.html
http://architecturoby.blogspot.com/2009/03/arsitektur-romawi.html

Page 2

Karakter Arsitektur

 Gereja Bizantium merupakan bentuk Basilika pada mulanya setelah berkembang
membentuk polanya sendiri yaitu pola gereja Byzantium yaitu Kubah Majemuk, kubah
Bola serta Denah terpusat. Karena daerah ini berhadapan langsung dengan daerah Asia
Kecil, maka pengaruhnya banyak yang masuk antara lain, kubah-kubah untuk menutup
denah segi-4 maupun polygonal dari gereja, makam maupun baptistery, hal ini mulai
dikembangkan pada abad 5.

 Praktek penggunaan kubah, memakai konstruksi atap yang sangat sederhana dengan atap
kayu aliran Kristen Lama, maupun atap lengkung aliran Romawi dari batu.

 Sistem konstruksi beton dari Romawi dikembangkan dengan pesat. Kubah yang
merupakan ciri dari daerah timur, menjadi model atap Byzantium yang merupakan
penggabungan dari Konstruksi kubah dan sudut model Yunani dan Romawi.

 Type-type kubah yang diletakkan diatas denah segi-4 dilengkapi dengan jendela kecil-
kecil diatas, disebut Pendetive, dimana pada masa Romawi kubahnya hanya menutup
bentuk denah melingkar atau polygonal. Sedangkan bahan pendetive tersebut dipakai
bahan bata atau batu apung yang disebut Purnise. Kubah dibuat tanpa menggunakan
penunjang sementara (bekisting). Kubah bola utama tersebut melambangkan Surga
menurut ajarannya, sedangkan kubah-kubah sudut atau disebut Squinch untuk
menggambarkan ajarannya dalam bentuk mosaic antara Bema atau bilik suci dengan
Naos atau ruang induk atau nave, dipisahkan oleh Iconostatis atau penyekat, sebagi
screen of picture “tirai”.

 Bentuk Eksterior, kadang tidak berhubungan/ tidak ada kesatuan dengan bentuk
interiornya.

 Arsitektur Bizantium dibagi dalam 3 periode, yakni periode awal, pertengahan dan akhir.

Periode Bizantium awal, dari permulaan abad ke 6 sampai pertengahan abad ke 9 adalah
abad eksperimen desain bangunan. Bentuk Basilika yang memanjang masih dipakai, akan tetapi
tidak cocok dengan kebiasaan setempat yang mempersembahkan misa di tengah-tengah ruang
utama gereja dan buka pada salah satu sudut ruangnya, Sehingga denah basilica yang memanjang
tidak dapat untuk upacara tersebut. Sedangkan salib Yunani yang panjang keempat sayap sama,
lebih cocok digunakan untuk upacara tersebut. Kebanyakan gereja berukuran kecil, bagian dalam
berkesan terang dan luas karena kesederhanaan bentuk pilaster dan pelengkung tanpa hiasan
serta terang yang diperoleh dari bukaan jendela dan pintu yang leber, juga lubang-lubang yang
dibuat pada atap kubahnya.

Dalam periode pertengahan antara akhir abad ke 9 sampai pertengahan abad ke 13 tidak lagi
mempergunakan 1 type dasar bangunan gereja, di masa ini digunakan 4 gaya terpusat yang
berbeda masing-masing terdiri dari inti kubah yang dibentuk menjadi beraneka ragam kombinasi
antara lain segi-8 dan bujur sangkar, sedangkan bagian sudut berkubah dihubungkan dengan

http://architecturoby.blogspot.com/2009/03/arsitektur-romawi.html
http://architecturoby.blogspot.com/2009/03/arsitektur-yunani.html

Similer Documents