Download Arsitektur Tradisional Bali PDF

TitleArsitektur Tradisional Bali
File Size152.4 KB
Total Pages12
Document Text Contents
Page 1

ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI

Permukiman/arsitektur tradisional adalah perwujudan ruang makro untuk menampung
aktifitas kehidupan dengan pengulangan pola ruang dari generasi ke generasi berukutnya
dengan sedikit atau tanpa perubahan, yang dilatarbelakangi oleh norma-norma agama dan
dilandasi oleh adat kebiasaan setempat serta dijiwai kondisi dan potensi alam lingkungannya.

Permukiman dan arsitekturnya yang berlokasi di Bali, dibangun, dihuni atau digunakan oleh
penduduk Bali yang berkebudayaan Bali, kebudayaan yang berwajah natural dan berjiwa
ritual. Permukiman dan arsitektur tradisional Bali, dihuni oleh masyarakat Bali/mereka yang
ingin berada dalam ruang-ruang Bali yang umumnya cenderung merancang ruang-ruang yang
dibangunnya dengan arsitektur tradisi dalam lingkungan binaan bermukim/permukimannya.

Konsep perencanaan kawasan dan permukimannya mengadaptasi pada tempat, waktu, dan
ruang serta orang/masyarakatnya. Konsep arsitekturnya yang berpedoman pada bentuk dan
fungsi peruntukannya.

Sistem konstruksi elemen-elemen struktur dengan menampilkan teknologi tradisional yang
konstruktif-ornamental-fungsional. Juga tentang kreasi bentuk proporsi dan ragam hias yang
disesuaikan dengan tipologi penyajiannya

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI

Pola berfikir tradisional atitha, warthamana dan nagatha, sebagai landasan bahwa mengenal
masa lampau dengan memprediksi kemungkinan di masa datang berpijak pada kenyataan
masa sekarang, menjadikan ketidak pastian dan segala konflik, memerlukan telaah untuk
pendekatan anggapan dan batasan dalam pola-pola analisis untuk suatu kesimpulan sebagai
langkah penterapan.

IDENTIFIKASI

Keadaan alam Bali, pegunungan di tengan-tengah membujur dari barat ke timur dengan
gunung-gunungnya, sehingga dataran terbelah di Bali Utara dan di Bali Selatan. Letak
astronomi, letak geografi serta kondisi geologi, iklim dan keadaan alam Bali serupa itu sangat
menentukan bentuik-bentuk perwujudan lingkungan binaan/arsitektur bermukim
tradisionalnya (desa).

KONSEP FILOSOFIS

Kesinambungan alam/makrokosmos (bhuwana agung) dan manusia/mikrokosmos (bhuwana
alit). Kesinambungan diatur melalui unsur-unsurnya yang disebut Panca Mahabhuta (5 unsur
alam); apah, teja, bayu, akasa, pertiwi, atau air, sinar, angina, udara dan zat padat/tanah.

Konsepsi perancangan arsitekturnya didasarkan pada tata nilai ruang yang dibentuk oleh 3
(tiga) sumbu, yaitu:

1) Sumbu kosmos, bhur, bhwah, swah (hidrosfir, litosfir, atmosfir);
2) Sumbu ritual, kangin-kauh terbit dan terbenamnya matahari);

Page 2

3) Sumbu natural, kaja-kelod (gunung-laut).

Masing-masing dengan daerah tengah yang bernilai madia. Dengan adanya pegunungan di
tengah, maka untuk Bali Selatan, kaja adalah ke arah gunung di utara, kelod ke arah laut di
selatan. Untuk Bali Utara, kaja adalah kea rah gunung di selatan, kelod kearah laut di utara.
Kedua sumbu lainnya berlaku sama.

SOSIOKULTUR

Di dalam territorial desa adat penduduk di Bali juga terdiri dari beberapa tingkatan strata
sosial Hindu yang disebut Kasta, yaitu brahmana, ksatrya,wesia, dan sudra. Dan dalam satu
desa penduduknya ada yang terdiri dari keempat kasta, ada pula yang hanya tiga kasta, dan
sering hanya terdiri dari dua yaitu wesia atau sudra saja. Dalam pekraman desa, kapling
tempat tinggal warga brahmana disebut grya, ksatrya dinamakan puri/jero, wesia atau sudra
disebut umah.

KEKERABATAN

Dalam sistem kemasyarakatan, di Bali pola kekrabatan/ikatan kekeluargaan merupakan
pendekatan yang proporsional untuk mengurainya. Sebab Masyarakat Bali terikat dalam
bentuk-bentuk kekrabatan (nyama, braya, soroh,warga) ikatan-ikatan upacara adat dalam
satuan keturunan sebagai bentuk sistem kemasyarakatan terutama kehadiran bersama dalam
upacara-upacara atau yadnya seperti manusa yadnya, pitra yadnya dan dewa yadnya (terdapat
kepercayaan saling menyembah /saling sumbah) dalam batas-batas tertentu.

Kesatuan wilayah merupakan bentuk dari sistem kemasyarakatan yang disebut Banjar dalam
unit sub lingkungan dan Desa dalam bentuk kesatuan lingkungan. Teritorial desa merupakan
satuan perangkat serta pengikat warga desa yang diatur oleh Awig-awig Desa Adat, kebiasaan
dan kepercayaan (Sima/Dresta Desa, Desa Mawa Cara). Banjar dikoordinir oleh Kelihan
Banjar, Kelihan Dinas untuk urusan dinas vertikal dan Kelihan Adat untuk urusan
adat/horizontal warga desa

POLA DESA

Pola-pola permukiman tradisional yang selanjutnya disebut Desa Tradisional di Bali
umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tata nilai ruang dari tata nilai ritual yang
menempatkan zona ‘sakral’ dibagian kangin (timur) arah terbitnya matahari sebagai arah
yang diutamakan. Berlanjut sampai pada penempatan zona ‘provan’ dibagian kauh (barat)
arah terbenamnya matahari. Faktor kondisi dan potensi alam, nilai utama ada pada arah
gunung dan kearah laut dinilai lebih rendah. Faktor sosioekonomi juga berpengaruh, bahwa
desa nelayan menghadap ke-arah laut, desa petani menghadap kearah persawahan atau
perkebunannya. Terjadi hubungan yang erat dan seimbang antara pola desanya dengan area
tempat kerjanya.

 Pada kondisi lain di Bali, pola permukiman ada yang berpola Pempatan Agung yang
disebut pula Nyatur Desa atau Nyatur Muka. Dua jalan utama yang menyilang Desa,
Timur – Barat dan Utara – Selatan, membentuk silang perempatan sebagai pusat desa

Similer Documents