Download Chapter II 1 PDF

TitleChapter II 1
File Size661.9 KB
Total Pages25
Document Text Contents
Page 1

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Anatomi Kelenjar Tiroid

2.1.1. Embriologi

Kelenjar tiroid adalah kelenjar endokrin yang pertama kali tampak pada fetus,

kelenjar ini berkembang sejak minggu ke-3 sampai minggu ke-4 dan berasal dari

penebalan entoderm dasar faring, yang kemudian akan berkembang memanjang ke

kaudal dan disebut divertikulum tiroid. Akibat bertambah panjangnya embrio dan

pertumbuhan lidah maka divertikulum ini akan mengalami desensus sehingga berada

di bagian depan leher dan bakal faring. Divertikulum ini dihubungkan dengan lidah

oleh suatu saluran yang sempit yaitu duktus tiroglosus yang muaranya pada lidah

yaitu foramen cecum (Cady & Rossy, 1998).

Divertikulum ini berkembang cepat membentuk 2 lobus yang tumbuh ke

lateral sehingga terbentuk kelenjar tiroid terdiri dari 2 lobus lateralis dengan bagian

tengahnya disebut ismus. Pada minggu ke-7 perkembangan embrional kelenjar tiroid

ini mencapai posisinya yang terakhir pada ventral dari trakea yaitu setinggi vertebra

servikalis V, VI, VII dan vertebra torakalis I, dan secara bersamaan duktus tiroglosus

akan hilang. Perkembangan selanjutnya tiroid bergabung dengan jaringan

ultimobranchial body yang berasal dari branchial pouch V, dan membentuk C-cell

atau sel parafolikuler dari kelenjar tiroid (Cady & Rossy, 1998) .

Sekitar 75 % pada kelenjar tiroid ditemukan lobus piramidalis yang menonjol

dari ismus ke kranial, ini merupakan sisa dari duktus tiroglosus bagian kaudal. Pada

akhir minggu ke 7 – 10 kelenjar tiroid sudah mulai berfungsi, folikel pertama akan

terisi koloid. Sejak saat itu fetus mulai mensekresikan Thyrotropin Stimulating

Hormone (TSH), dan sel parafolikuler pada fetus sementara belum aktif (Cady &

Rossy, 1998).

Page 2

2.1.2. Anatomi dan Fisiologi

Tiroid berarti organ berbentuk perisai segi empat.Kelenjar tiroid merupakan

organ yang bentuknya seperti kupu-kupu dan terletak pada leher bagian bawah di

sebelah anterior trakea.Kelenjar ini merupakan kelenjar endokrin yang paling banyak

vaskularisasinya, dibungkus oleh kapsula yang berasal dari lamina pretracheal fascia

profunda.Kapsula ini melekatkan tiroid ke laring dan trakea (Cady & Rossy, 1998).

Klenjar ini terdiri atas dua buah lobus lateral yang dihubungkan oleh suatu

jembatan jaringan ismus tiroid yang tipis dibawah kartilago krikoidea di leher, dan

kadang-kadang terdapat lobus piramidalis yang muncul dari ismus di depan laring

(Cady & Rossy, 1998).

Kelenjar tiroid terletal di leher depan setentang vertebra servikalis 5 sampai

trokalis 1, terdiri dari lobus kiri dan kanan yang dihubungkan ileh ismus. Setiap lobus

berbentuk seperti buah pear, dengan basis di bawah cincin trakea 5 atau 6. Kelenjar

tiroid mempunyai panjang lebih kurang 5 cm, lebar 3 cm, dan dalam keadaan normal

kelenjar tiroid pada orang dewasa beratnya antara 10 sampai 20 gram. Aliran darah

kedalam tiroid per gram jaringan kelenjar sangat tinggi (lebih kurang 5ml/menit/gram

tiroid, kira-kira 50x lebih banyak dibanding aliran darah dibagian tubuh lainnya)

(Cady & Rossy, 1998).

Pada sebelah anterior kelenjar tiroid menempel otot pretrakealis

(musculus.sternothyroideus dan musculus sternohyoideus) kanan dan kiri yang

bertemu pada midline.Otot-otot ini disarafi oleh cabang akhir nervus kranialis

hipoglossus desendens dan yang kaudal oleh ansa hipoglossus. Pada bagian

superfisial dan sedikit lateral ditutupi oleh fasia kolli profunda dan superfisial yang

membungkus musculus sternokleidomastoideus dan vena jugularis eksterna. Sisi

lateral berbatasan dengan arteri karotis komunis, vena jugularis interna, trunkus

simpatikus, dan arteri tiroidea inferior (Cady & Rossy, 1998).

Bagian posterior dari sisi medialnya terdapat kelenjar paratiroid, nervus rekuren

laringeus dan esofagus.Esofagus terletak dibelakang trakea dan laring sedangkan

Page 12

mengkonsumsi obat-obatan anti-tiroid (Brown, 2005). Gejala klinis penyakit Graves

pada neonatus adalah seperti pada tabel 2.2.

Yang paling sering dikeluhkan terutama oleh anak prepubertas adalah

penurunan berat badan yang nyata dan diare.Sedangkan tanda klinis klasik hipertiroid

seperti pada dewasa yang meliputi palpitasi, iritabilitas, tremor halus, dan intoleransi

terhadap panas lebih menonjol terjadi pada anak remaja (Lazar, 2000).

Pembesaran kelenjar tiroid (goiter), walau hampir selalu ada, tetapi bukanlah

hal yang utama menjadi keluhan, bahkan sering menjadi hal yang di luar perhatian

keluarga penderita, bahkan oleh tenaga kesehatan sekalipun, dikarenakan pembesaran

sering kali ringan. Kalenjar tiroid yang membesar teraba lembut dan berbatas tidak

tegas (diffuse), tidak rata, dan fleshy, sering juga terdengar bruit pada auskultasi

(Bhadada, 2006).

Beberapa penderita juga sering mengeluhkan adanya poliuria dan mengompol

di malam hari, sebagai akibat peningkatan laju filtrasi glomerulus.Pada anak-anak

remaja sering terjadi gangguan pubertas.Pada remaja wanita yang telah menarche,

seringkali terjadi amenore sekunder.Gangguan tidur yang menyertai seringkali

menyebabkan anak cepat lelah (Brown, 2005). Secara keseluruhan gejala dan tanda

klinis penyakit Graves dapat dilihat pada tabel 2.3.

Page 13

Tabel 2.3. Gejala klinis penyakit graves pada anak.
TANDA Jumlah (%)
Struma*

Takikardia

Bruit pada tiroid

Bising jantung

Peningkatan sensitivitas

Peningkatan denyut nadi

Berkeringat banyak

Tremor

Palpitasi

Intoleransi terhadap panas

Peningkatan nafsu makan

Hipertensi

Oftalmopati

Peningkatan tinggi badan

Penurunan berat badan

Diare

Hiperaktif

Gangguan menstruasi

Gangguan tidur

Lekas capai

Sakit kepala

98-99

82-95

20-84

10-84

80-82

77-80

41-78,6

51-78,2

34-76,8

27-76,8

47-73,2

71

58,9-71

71-71

50-54

13-48,2

44

33,3

22-30,4

5,4-16

15

*hanya 62,5 % termasuk sedang sampai besar

Sumber: Bhadada, 2006

Page 24

bloker dengan yodium inorganik. Pada pasien struma nodular toksik, yodium

inorganik tidak dapat diberikan karena dapat menimbulkan eksaserbasi hipertiroid

(Batubara, 2010).

Komplikasi operasi yang dapat terjadi adalah hipoparatiroid dan kerusakan

nervus laringeus rekuren. Komplikasi tersebut jarang terjadi namun sering dijumpai

hipotiroid permenen, oleh sebab itu pasien harus dievaluasi dalam satu bulan setelah

operasi, kemudian dalam interval beberapa bulan, dan selanjutnya setiap tahun

dengan memantau kadar T4 bebas dan tirotropin dalam serum (Batubara, 2010).



2.3.7. Krisis tiroid

Krisis tiroid merupakan komplikasi yang berat, namun jarang terjadi pada

anak-anak hipertiroid. Biasanya didahului faktor pencetus yakni: pembedahan, infeksi

dan KAD (ketoasidosis diabetik). Hal ini juga terjadi pada saat pembedahan

tiroidektomi maupun terapi ablasi menggunakan radioaktif (Krassas, 2004).

Gejala klinisnya berupa hipertermi akut, berkeringat banyak, takikardia, dan

penurunan kesadaran sampai dengan koma (Krassas, 2004).

Terapi harus segera dilakukan, sebagai berikut:

1. Propanolol 2-3 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam untuk

mengendalikan gejala adrenergiknya. Propranolol dapat diberikan

intravena dengan dosis 0,01-0,1 mg/kgBB dengan dosis maksimal 5 mg

dalam 10-15 menit, mulai dengan dosis yang kecil.

2. Dexamethasone diberikan dengan dosis 1-2 mg setiap 6 jam dapat

mengurangi konversi T4 menjadi T3.

3. NaI dengan dosis 1-2 g/hari dapat menurunkan pelepasan hormon tiroid.

4. Larutan Lugol 5 tetes setiap 8 jam dapat diberikan peroral apabila

penderita mulai sadar.

5. Kompres dingin dengan cooling blanket untuk mengendalikan

hiperterminya.

Page 25

6. PTU sendiri tidak memberikan efek terapi sampai beberapa hari, tetapi

dapat diberikan untuk jangka lamanya dengan dosis 6-10 mg/kgBB/hari

dalam dosis terbagi 6 jam (dosis maksimal 200-300 mg)

7. Kesimbangan cairan harus selalu terjaga.

8. Jika terdapat tanda-tanda gagal jantung, dapat dipertimbangkan digitalis.

Similer Documents