Download Immanuel Kant PDF

TitleImmanuel Kant
File Size135.0 KB
Total Pages11
Document Text Contents
Page 1

Ketegangan antara Rasionalisme dan Empirisme yang berlangsung selama lebih dari satu setengah
abad telah mengurangi rasa hormat kita, tidak hanya kepada ajaran-ajaran filsafat tetapi juga kepada
ilmu pengetahuan pada umumnya. Rasionalisme gagal membangun transendensi Tuhan atas alam.
Alih-alih membuktikan trasendensi Tuhan atas alam semesta, rasionalisme justru terjerat dalam
panteisme implisit ala Descartes, Malabranca, Leibniz, dan panteisme eksplisit Spinoza. Di lain pihak,
empirisme pun gagal membuktikan eksistensi alam yang diyakini sebagai yang berbeda dari pikiran.
Empirisme justru kehilangan jati dirinya dalam skeptisisme. Tidak bisa dipungkiri, kegagalan
rasionalisme dan empirisme adalah konsekuensi logis dari fenomenalisme yang sebenarnya adalah
fundasi dari rasionalisme dan empirisme itu sendiri, terutama ajaran bahwa manusia tidak bisa
mengetahui benda-benda (things) atau realitas; bahwa yang diketahui manusia hanyalah penampakan
(appearance) di mana benda-benda atau kenyataan dihasilkan atau diproduksi dalam pikiran manusia.

Pemikiran Immanuel Kant dan Kritisisme Kantian berusaha menyatukan rasionalisme dan empirisisme
dalam semacam fenomenalisme “baru” (fenomenalisme jenis unggul). Bagi Kant, manusialah aktor
yang mengkonstruksi dunianya sendiri. Melalui a priori formal, jiwa manusia mengatur data kasar
pengalaman (pengindraan) dan kemudian membangun ilmu-ilmu matematika dan fisika. Melalui
kehendak yang otonomlah jiwa membangun moralitas. Dan melalui perasaan (sentiment) manusia
menempatkan realitas dalam hubungannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapai (finalitas) serta
memahami semuanya secara inheren sebagai yang memiliki tendensi kepada kesatuan (unity).

Berbagai contoh kegiatan manusia ini membentuk apa yang disebut Kant sebagai “Revolusi
Kopernican”. Gagasan seputar Revolusi Kopernican ini dapat dirumuskan secara singkat berikut: Apa
yang harus diketahui manusia, apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus percaya menemukan
pembenarannya bukan dalam realitas yang ada dalam dirinya (noumenon) sebagaimana metafisika
tradisional memahaminya, tetapi di dalam kemampuan teoritis, praktis dan estetika manusia. Menurut
Kant, pengetahuan tentang bagaimana kemampuan-kemampuan ini berfungsi merupakan persiapan
yang diperlukan bagi semua metafisika semua (istilah “noumenon” susah diterjemahkan. Kata ini
dimaksud untuk menyebut apa yang Kant istilahkan sebagai “Ding-an sich”, yakni hal dalam dirinya
sendiri, atau obyek, sebagai lawan dari fenomena, pengaruh atau efek subyektif yang dihasilkan oleh
kesadaran kita).

Jika secara retrospeks Kritisisme Kantian menandai persimpangan jalan dan sublimasi rasionalisme
dan empirisme, sebenarnya bisa dikatakan bahwa Kritisisme Kantian mengandung dalam dirinya benih
dari semua pemikiran filosofis berikutnya, termasuk filsafat kontemporer. Dua gerakan filosofis utama
abad lalu, yakni idealisme dan positivisme, memiliki sumbernya dalam ajaran Kant.

Menolak sama sekali noumenon, idealisme mereduksikan realitas kepada sekadar fenomena dari “ego”
impersonal yang menampilkan aktivitasnya secara dialektis. Positivisme, pada gilirannya,
mereduksikan realitas kepada sekadar fenomena dari materi. Idealisme dan positivisme kemudian
melahirkan eksistensialisme kontemporer, filsafat tanpa metafisika dan dimaksudkan untuk
memberikan pengetahuan tentang dunia yang diselenggarakan oleh daya-daya imanen. Sama seperti
pendahulunya, eksistemsialisme tidak mampu menawarkan jalan keluar definitif bagi masalah-masalah
perennial filsafat.

Hidup dan Karya

Immannuel Kant lahir di Konigsberg di Prusia Timur pada tanggal 22 April 1724. Memulai studinya
di Fredericianum Collegium, salah satu pusat pietisme Jerman termasyur, Kant kemudian mendaftar di
sekolah filsafat di Universitas Konigsberg, di mana dia belajar filsafat rasionalistik Wolff serta
matematika dan fisika Newton. Setelah menamatkan studi di universitas tersebut Kant menghabiskan
sembilan tahun sebagai guru bagi beberapa keluarga terpandang sebelum kembali mengajar di
almamaternya ini.

Page 2

Kembaliny Immnuel Kant ke Konigsberg pada tahun 1755 ditandai dengan terbitnya salah satu
bukunya berjudul General Natural History and Theory of Heavens, di mana ia membahas hipotesis
bahwa sistem tata surya sebenarnya bersumber pada materi asali nebulus. Setahun kemudian Kant
mulai mengajar di Universitas Konigsberg sampai tahun 1797. Tahun 1756 menandai pembaruan
minat dalam penyelidikan filosofis. Dirangsang oleh empirisme Hume dan naturalisme Rousseau, Kant
mulai merencanakan revisi kritis terhadap rasionalisme dogmatis Leibniz dan Wolff, pemikiran yang
sangat diakrabinya selama masa “tidur dogmatis”.

Seluruh keraguan yang menumpuk dalam pikiran Kant menemukan ekspresinya dalam karya berjudul
The Dreams of a Visionary Illustrated with the Dreams of Metaphysics. Buku ini ditulis Kant pada
tahun 1766. Pandangan visioner yang didiskusikan Kant dalam buku ini terutama berpusat pada karya
Swedenborg, seorang metafisikawan Swedia yang waktu itu ajarannya menjadi topik yang hangat
didiskusikan. Diangkat menduduki kursi Logika dan Metafisika di Universitas Konigsberg pada tahun
1779, resmilah Kant menyelesaikan studinya dengan disertasi De Mundi sensibilis atque intelligibilis
formis et principiis, di mana untuk pertama kalinya dia menunjukkan kecenderungan mengadopsi
sistem independen filsafat.

Tidak sampai sepuluh tahun ketika periode “pra-kritis” Kant berakhir. Pada tahun 1781 Kant muncul
sebagai pelopor kritik transendental dengan penerbitan karya Critique yang pertama. Demikianlah,
dimulai “periode kritis” yang bertahan sampai tahun 1794. Setelah beberapa publikasi tentang agama
yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Kekristenan tradisional, Kant mentaati perintah Raja
Frederick William II untuk tidak membicarakan masalah agama dalam ajaran dan tulisan-tulisannya.

Pensiun dari mengajar karena usia dan sakit, Kant menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya
dengan mengedit ulang karya-karyanya. Dia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 28 Februari
1804.

Karya utama Kant selama periode kritis meliputi Critique of Pure Reason, di mana dia menguji akal
manusia dan menyimpulkan bahwa manusia mampu membangun ilmu pengetahuan, dan bukan
metafisika. Pada tahun 1783 ia menerbitkan Prolegomena atau Prologues to any Future Metaphysics,
di mana dia menguji hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Pada 1785 terbitlah karyanya
berjudul Foundation for the Metaphysics of Ethics, di mana ia mendiskusikan masalah moral
berdasarkan prinsip-prinsip kritik transendental. Dalam bukunya Critique of Judgment, ia menguji
finalitas dalam alam dan masalah estetika. Ketiga Critique inilah yang menjadi maha karya serta
eksposisi definitif pemikiran seorang Immanuel Kant.

Kritik atas Rasio Murni

Rasionalisme dan empirisisme mengambil alih penyelesaian problem: “Nilai apa yang dikandung oleh
pengetahuan (ide atau impresi) yang aku dapatkan tentang dunia fisikal (material) dan hubungannya
dengan apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan ini mengandung sekaligus masalah epistemologis
dan etis. Untuk mengatasi kesulitan, rasionalisme—dari Descartes sampai Leibniz—telah mulai
dengan asumsi bahwa pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan. Memulainya dengan
melakukan deduksi dari ide-ide bawaan ini, rasionalisme membangun pengetahuan yang dilengkapi
dengan universalitas (karena ide-ide bawaan bersifat umum bagi semua pikiran) dan sesuatu yang
dibutuhkan (kualitas yang harus dimiliki semua pengetahuan ilmiah dan filsafat). Tetapi rasionalisme
gagal menunjukkan keabsahan atau validitas jenis pengetahuan ini dalam rujukannya kepada dunia
alam tanpa jatuh ke panteisme. Selanjutnya, dalam setiap pertimbangan mengenai Allah yang
transenden, orde atau susunan ide-ide tetap terpisah dan berbeda dari orde atau susunan benda-benda.

Di lain pihak, empirisme berusaha menjawab pertanyaan yang sama dan memulainya dengan impresi
inderawi. Dengan cara ini empirisme mengklaim telah “menemukan” salinan atau kopi objek yang

Page 5

sebuah aspek universal dan keniscayaan dari dunia fisik tetapi karena mereka adalah konstruksi apriori
jiwa manusia dan menerima darinya universalitas dan keniscayaan.

2. Analitik Transendental

Intuisi murni tentang ruang dan waktu menyajikan kepada kita spektrum pengetahuan (dalam
epistemologi Kant digunakan istilah manifold, dimaksud sebagai “the totality of discrete items of
experience as presented to the mind; the constituents of a sensory experience”), tetapi sebenarnya
merupakan pengetahuan yang tidak tertata. Jiwa manusia, yang cenderung ke arah penyatuan
pengetahuan, tidak bisa berhenti pada intuisi yang membingungkan ini. Roh atau jiwa manusia selalu
ingin bergerak maju ke pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi yang berpusat di kecerdasan
(intellect) dan yang kegiatannya adalah mengatur data yang diinderai yang tersebar dalam ruang dan
waktu. Aktivitas ini dimungkinkan melalui bentuk-bentuk (forms) apriori atau atau kategori-kategori
yang dengannya intelek mendapatkan bentuknya. Bentuk-bentuk atau kategori-kategori semacam ini
berfungsi sebagai berikut:

• Pada intuisi, misalnya, intuisi mengenai “pohon”. Saya punya data tertentu yang diindrai (warna,
daun, cabang, dll) yang eksis dalam ruang dan dalam perubahan yang sifatnya temporal.

• Intelek mengolah data-data ini (data-data pohon) sesuai keadaan alamiahnya—yakni sesuai bentuk
atau forma apriorinya—dan menggunakan substansi untuk memantapkan atau menstabilkan data-data
pengindraan yang masih berubah-ubah ini. Pada gilirannya, substansi lalu menjadi salah satu dari
kategori intelek. Meskipun demikian, intelek tidak berdiam diri di dalam substansi.

• Proses ini akan terus berlanjut di mana data yang dikelola intelek kemudian diletakkan dalam
hubungannya dengan data yang mendahului “pohon” itu. Intelek kemudian mengasosiasikan data-data
tersebut dengan konsep kedua, yakni “penyebab” (cause). Ini adalah kategori kedua, yang karenanya
fenomena terikat atau tergantung satu sama lain berkat bantuan suatu koneksi yang sifatnya universal
dan perlu. Hubungan atau koneksi ini terjadi sedemikian rupa sehingga pada saat fenomena ada atau
terjadi (penyebab), pada saat itu pula fenomena lainnya (efek) harus terjadi, selalu dan di mana-mana.

Ada 12 kategori intelek, dan dibagi oleh Kant menjadi empat kelas, yakni kuantitas, kualitas,
hubungan, dan moda. Keduabelas kategori berfungsi sebagai kerangka acuan di mana hukum-hukum
mekanis alam bisa dipahami. Perlu dicatat bahwa unifikasi permanen dari data yang diinderai ini hanya
mungkin dengan syarat bahwa intelek pemersatu (yang dimaksud adalah intelek) tetap identik dengan
dirinya sendiri. Jika intelek berubah-ubah di hadapan data yang diinderai, mustahil mencapai suatu
unifikasi permanen. Demikianlah universalitas dan objektivitas ilmu pengetahuan menyiratkan
keabadian intelek dalam identitasnya.

3. Dialektika Transendental

Klasifikasi yang dilakukan intelek atas data-data yang ditangkap intuisi ke dalam kategori-kategori
tidak pernah mencapai suatu penyatuan sempurna. Dalam dunia fenomenal selalu ada serangkaian
fenomenal yang memperpanjang sendiri tanpa batas dalam ruang dan waktu. Dalam diri kita,
bagaimanapun, ada kecenderungan untuk mencapai penyatuan fenomena secara tetap, dan sebagai
akibatnya timbul dalam diri kita “ide-ide” tertentu yang berfungsi sebagai titik acuan dan pengatur
bagi fenomena secara keseluruhan. “Ide-ide” dimaksud ada tiga, yakni, (1) ego personal, prinsip
pemersatu atas semua fenomena internal; (2) dunia eksternal, prinsip pemersatu dari semua fenomena
yang datang dari luar, dan (3) Allah, prinsip pemersatu dari semua fenomena, terlepas dari asal-usul
mereka.

Page 6

Ego personal, dunia eksternal, dan Allah (realitas tertinggi dari metafisika tradisional), disebut
numena, yaitu, realitas dalam dirinya, pengada yang melampau realitas yang diindrai dan dan tak-
terkondisikan. Kant menyajikan ketiga entitas ini dalam karyanya berjudul Dialektika Transendental,
bagian ketiga dari Critique of Pure Reason.

Demikianlah, Dialektika Transendental membawa kita ke tingkat ketiga dari pengetahuan manusia.
Inilah bagian dari pengetahuan manusia yang menyibukkan diri dengan “ide-ide” yang oleh Kant
sendiri disebut sebagai rasio. Bagian ketiga dari Critique of Pure Reason bertujuan untuk melihat
apakah ide-ide mengenai “ego”, “dunia”, dan “Allah” memungkinkan kita untuk mengetahui
kenyataan sebagaimana mereka representasikan, atau apakah pengetahuan tersebut tidak mungkin. Ide-
ide ini pada gilirannya akan menjadi semacam wadah subjektif tanpa makna. Jelas bahwa kritisisme
Kant berakhir dalam skeptisisme. Rasio murni selalu terhubung dengan intuisi yang bisa diindrai, dan
karena itu tidak dapat sampai pada pengetahuan tentang ego personal, dunia, dan Allah. Ketiga realitas
ini melampaui data-data intuisi.

Sehubungan dengan “ego personal” (substansi)—objek dari psikologi rasional dalam filsafat
tradisional—Kant mengamati bahwa hal itu lenyap dalam paralogisme-paralogisme, yaitu di dalam
sofisme, penalaran palsu. Jadi, bertentangan dengan Descartes, Kant percaya bahwa substansi spiritual
tidak dapat diketahui secara langsung. Apa yang dapat kita ketahui secara langsung adalah tindakan
mengetahui (fenomena). Serangkaian tindakan ini, bahkan jika diekstensi secara tak-terhingga, tidak
akan pernah memberikan kita pengetahuan tentang kenyataan seperti ego personal, yang seharusnya
berada melampau rangkaian pengetahuan ini. Selain itu, bagi Kant, substansi adalah kategori intelek
yang memiliki hubungan hanya kepada data-data yang bisa diindrai, dan akibatnya tidak berguna
dalam upaya menemukan pengetahuan tentang realitas yang melampaui pengindraan. Kant pada titik
ini diarahkan langsung kepada Descartes yang berpendapat bahwa objek pertama pengetahuan adalah
jiwa (substansi spiritual).

Dengan mengacu pada dunia eksternal, yang mengenainya studi filsafat tradisional mempelajarinya
secara khusus dalam kosmologi, Kant mengatakan bahwa itu hilang dalam antinomi-antinomi, yaitu
dalam proposisi kontradiktoris, dan bahwa intelek tidak mampu membedakan manakah dari proposisi
yang bertentangan adalah benar. Antinomi-antinomi ini berjumlah empat, masing-masingnya dibentuk
dari sebuah tesis dan antitesis yang sesuai. Keempat antinomi tersebut adalah berikut:



• Tesis: Dunia harus memiliki awal dalam waktu dan tertutup dalam dalam ruang yang terbatas.
Antitesis: Dunia ini kekal dan tak-terbatas.

• Tesis: Materi pada akhirnya dapat dibagi menjadi bagian-bagian sederhana (atom atau monad-
monad) yang pada dirinya tidak bisa lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Antitesis: Setiap benda material dapat dibagi, bahwa ada sesuatu yang sederhana yang sedang
berada atau eksis di satu tempat tertentu di dunia ini.

• Tesis: Selain kausalitas yang sesuai dengan hukum alam (dan karena itu perlu), ada kausalitas
yang bebas. Antitesis: Tidak ada kebebasan; segala sesuatu di dunia ini terjadi sepenuhnya
sesuai hukum alam.

• Tesis: Terdapat eksistensi pengada absolute tertentu yang perlu yang menjadi bagian dari
dunia, entah sebagai bagian atau sebagai penyebabnya. Antitesis: Pengada absolute tertentu
yang perlu itu tidak eksis, entah di dalam dunia ini atau di luarnya.

Dua antinomi pertama (pertentangan berada di antara semesta yang terbatas dan yang tak- terbatas dan
di antara materi dapat dibagi dan tak-dapat-dibagi) adalah bagian dari dunia fisik. Menurut Kant,
mereka tidak berkorespondensi dengan “benda dalam dirinya sendiri” (noumenon), karena mereka
adalah aplikasi tidak sah dari kategori ruang dan waktu terhadap “benda dalam dirinya sendiri.”

Page 10

hidup, di mana mudah untuk memperhatikan bagaimana bagian-bagian berkembang ke arah
menghasilkan organisme hidup yang sempurna.

Kant memperluas pandangan ini meliputi seluruh alam dan melihatnya berpuncak pada lahirnya
spiritualitas, yang akan dicapai melalui budaya dan peradaban, kemampuan teknis dan pendidikan
moral. Pandangan teleologis ini, dalam mana kita menganggap dunia pengada-pengada dan peristiwa
sebagai yang dibaktikan (ordained) bagi sebuah tujuan akhir dan pada akhirnya bagi kemendesakan
(exigency) spiritualitas kita, menemukan alasannya dalam perasaan dan bukan dalam intelek. Seperti
terdapat dalam Critique of Practical Reason, solusinya ditemukan dalam kemendesakan dari yang
tidak berkondisi, dan bukan dalam pengetahuan yang tidak berkondisi.

2. Putusan estetis

Putusan estetis, melaluinya kita menilai sebuah objek sebagai yang menyenangkan, dimulai dengan
kita memisahkan objek dari setiap konsep khusus (determined concept) dan dari setiap kepentingan
praktis, dan dengan mereferensi objek yang telah dibebaskan itu kepada subjek. Subyek kemudian
menemukan kepuasan fakultas rohaninya dalam obyek yang dirujuk kepadanya dan menyatakan
kepuasannya ini dalam putusan estetis: “Lahan ini indah!” Hal yang kurang dalam putusan estetis
adalah (1) semua putusan pengetahuan (misalnya: “Lahan ini luas”), dan (2) semua putusan dari
kepentingan (misalnya: “Lahan ini berguna untuk penggembalaan ternak”).

Objek dari sebuah putusan estetis adalah adalah “bentuk” dari objek yang ditentukan dalam dirinya
sendiri (considered in itself) (misalnya: komposisi warna dalam sebuah lanskap) dan diarahkan kepada
subjek. Subyek dengan demikian menemukan kepuasan bagi fakultas rohaninya. Dalam menyadari
kenikmatan estetis, subjek (ego) merasa dirinya bebas dari kepentingan teoritis atau praktis apapun; ia
merasa dirinya sebagai satu, seorang pribadi, subjek dari kegiatan rohani. Demikianlah kita berada
dalam ranah yang tidak berkondisi. Perlu dicatat bahwa putusan estetis bukanlah pengetahuan sejati.
Ini adalah urgensi atau kemendesakan dari subjek dalam mengekspresikan perasaan estetisnya dalam
cara sebagaimana dijelaskan.

Kesimpulan

Bagi Kant, satu-satunya pengetahuan yang benar dan tepat adalah pengetahuan ilmiah, yaitu
pengetahuan yang diperoleh melalui kategori-kategori intelek, yang tugasnya adalah mengatur data-
data pengindraan yang masuk sesuai suksesi mekanik mereka. Ideal realitas (noumenon), Allah,
keabadian jiwa, dan dunia eksternal bukanlah objek dari intuisi yang masuk akal (sensible intuiton),
dan karenanya bukan obyek dari pengetahuan yang adalah lazim bagi intelek.

Tanpa ragu, bagi Kant, keberadaan dari yang melampaui pengindraan, Allah dan keabadian jiwa
sungguh-sungguh pasti; itu adalah determinasi konseptual (conceptual determination) mereka yang
adalah mustahil. Untuk alasan ini, Kant dipaksa menunjukkan keberadaan mereka sebagai yang
dipostulatkan oleh rasio praktis dan sebagai kemendesakan dari fakultas yang beroperasi di ranah
finalitas dan estetika.

Tetapi begitu pemahaman yang benar dan tepat dari keberadaan Allah dan jiwa ditolak, siapa yang
dapat meyakinkan kita bahwa postulat-postulat dan kemendesakan-kemendesakan yang dibicarakan
Kant dengan begitu fasih bukanlah semata-mata ilusi si subjek? Bukankah akan tampak lebih logis
untuk menyajikan subjek, jiwa manusia, sebagai pencipta dan pengatur mutlak, dan kemudian
menurunkan seluruh realitas dari manusia melalui deduksi logis?

Inilah kecenderungan yang perlahan-lahan menyertai seluruh Kritisisme Kantian, dan untuk alasan ini
tanpa keraguan apapun Kant adalah Bapak Idealisme modern.

Similer Documents