Download SNI 03-xxxx-2000 (Kayu).pdf PDF

TitleSNI 03-xxxx-2000 (Kayu).pdf
File Size733.5 KB
Total Pages117
Table of Contents
                            Tabel 3.1 Nilai Kuat Acuan
Tabel 3.3 Kelas mutu vs ratio tahanan
Tabel 4.3-1 Faktor Tahanan
1_Maksud dan Tujuan
2_Persyaratan - persyaratan
3_Kuat acuan
4_Ketentuan umum
	4.2.2 Kombinasi pembebanan
5_Syarat perencanaan
6_Batang Tarik
7_Batang Tekan
8_Batang Lentur
LAMP A_Daftar Notasi
LAMP B_Fakto koreksi_Layan basah
LAMP C_Sambungan gigi
                        
Document Text Contents
Page 58

SNI XX - XXXX - 2000

57 dari 99

9. KOMBINASI BEBAN LENTUR DAN AKSIAL PADA
KOMPONEN STRUKTUR

9.1 Umum

9.1.1 Ruang lingkup
Ketentuan dalam butir ini berlaku untuk komponen struktur yang
memikul:
a) Beban lentur terhadap kedua sumbu utamanya dan/atau

kombinasi beban lentur dan aksial, baik tarik maupun tekan; dan
b) Kolom yang mengalami pembebanan eksentris.

9.1.2 Perencanaan komponen struktur
Tahanan terkoreksi, M’, P’, dan T’, pada persamaan interaksi dalam
butir ini, harus dihitung dengan persamaan pada Butir 6, 7, dan 8.
Berbagai parameter perencanaan dalam persamaan interaksi
bervariasi sepanjang komponen struktur. Dalam kasus tersebut,
perencanaan komponen struktur harus didasarkan atas perhitungan
pada lokasi paling kritis di sepanjang komponen struktur tersebut.


Pada butir ini faktor tahanan penampang, , ditentukan sebagai
berikut:

Lentur: b = 0,85
Tarik sejajar serat: t = 0,80
Tekan sejajar serat: c = 0,90

Faktor waktu, , pada Butir 4.3.3 harus digunakan seperti yang
ditentukan pada Butir 6, 7, 8, dan butir ini. Nilai tunggal faktor
waktu, yang tercantum pada Tabel 4.3-2 untuk kombinasi
pembebanan yang ditinjau, harus digunakan untuk setiap suku dalam
persamaan interaksi.

9.2 Tahanan penampang yang dibebani kombinasi lentur dan tarik
aksial

Tahanan penampang komponen struktur terhadap pembebanan
kombinasi lentur dan tarik aksial harus ditentukan pada sisi tariknya,
bila stabilitas lateral tidak perlu ditinjau, atau pada sisi tekannya, bila
gaya tarik aksial tidak cukup dominan sedemikian sehingga gejala
tekuk torsi lateral menjadi lebih menentukan. Persamaan berikut ini
harus dipenuhi:

a) Sisi tarik (dianggap terjadi interaksi stabilitas lateral):

Page 59

SNI XX - XXXX - 2000

58 dari 99

0,1
'
yb

uy
'
sb

ux

t

u

M

M

M
M

T'
T

(9.2-1)


b) Sisi tekan (interaksi dengan gaya aksial tarik akan meningkatkan

tahanan penampang terhadap tekuk torsi lateral):


0,1

1

6
2

eb

ux'
yb

uy
'
xb

uux

M
M

M

M

M

T
d

M
(9.2-2)


Untuk komponen struktur tak persegi panjang, faktor d/6 pada
suku pertama, dengan d adalah tinggi komponen struktur, harus
diganti dengan Sx/A, yaitu perbandingan antara modulus
penampang terhadap sumbu kuat dan luas penampang bruto.


c) Interaksi pada sisi tekan tanpa adanya gaya tarik aksial.


Apabila gaya tarik tidak bekerja secara simultan dengan momen
lentur maka persamaan (9.2-2) harus terpenuhi dengan menganggap
gaya aksial, Tu, sama dengan nol.


Pada persamaan (9.2-1) dan (9.2-2):


Tu adalah gaya tarik terfaktor, N
Mux, Muy adalah momen lentur terfaktor terhadap sumbu kuat dan

sumbu lemah, N-mm
M’x, M’y adalah tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat dan

sumbu lemah, dengan memperhatikan pengekang lateral
yang ada, N-mm

Me adalah momen tekuk lateral elastis dari Butir 8.2.35, N-
mm

M’s adalah M’x yang dihitung menggunakan faktor stabilitas
balok, CL, sama dengan satu dan dengan
memperhitungkan faktor volume, CV, N-mm

9.3 Tahanan penampang komponen struktur pada lentur dua arah
serta dalam kombinasi lentur dan tekan aksial

9.3.1 Balok, kolom, dan komponen struktur rangka
Pada komponen struktur prismatis yang dibebani lentur dua arah, atau
yang dibebani gaya tekan aksial dan lentur terhadap satu atau kedua
sumbu utamanya, harus memenuhi ketentuan berikut:

Page 116

Fv’ adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi,
em adalah eksentrisitas pada penampang neto akibat adanya coakan

sambungan.


2. Pada sambungan gigi majemuk, terdapat dua gigi dan dua panjang muka yang
masing-masing diatur sebagai berikut (lihat Gambar C2),


dalamnya gigi pertama, tm1 30 mm
dalamnya gigi kedua, tm2 tm1 + 20 mm, namun tm2 1/3 h
panjang kayu muka pertama, lm1 200 mm dan lm1 4 tm1

yang mana h adalah tinggi komponen struktur mendatar.




Gambar C2 Sambungan gigi majemuk.

Tahanan geser pada bagian kayu muka yang pertama dihitung sebagai berikut,



1 25
1 0 25

1

1 2

1
1

1

, cos
,

'
Nu

F
F F

l bF
l
e

m

m m
v

m v
m

m




dan, tahanan geser pada bagian kayu muka yang kedua dihitung berikut ini,


Nu
l bF

l
e

v
m v

m

m

cos
,

'
2

1 0 25




90o

�"m2
�"m

�"m1

90o



½ h’

½ h’

h
t m

2

tm1 Celah 10 ~ 20 mm

Penguat

½
h 2


½

h 2


½ tm2
½ tm2

e m
e m

1


½
h 1


½

h 1


Nu

Tu

Page 117

Nu adalah gaya tekan terfaktor,
adalah sudut antara komponen struktur diagonal terhadap komponen

struktur mendatar,
v adalah faktor tahanan pada Tabel 4.3-1,
adalah faktor waktu pada Tabel 4.3-2,
lm adalah panjang kayu muka rerata,
lm1 adalah panjang kayu muka yang pertama,
lm2 adalah panjang kayu muka yang kedua,
em adalah eksentrisitas rerata pada penampang neto akibat adanya coakan

sambungan,
em1 adalah eksentrisitas bagian kayu muka pertama pada penampang neto

akibat adanya coakan sambungan,
Fm1 adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang pertama,
Fm2 adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang kedua,
b adalah lebar komponen struktur mendatar,
Fv’ adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi.

Sambungan gigi majemuk hanya dianjurkan digunakan bila 45 .

Similer Documents